Mengenal Pakaian Adat Aceh Beserta Makna Filosofisnya

0
61

Penulis: Aniesa | Editor: Agnes 

Nanggroe Aceh Darussalam, atau lebih akrab disebut Aceh, merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberikan otonomi khusus. Aceh memang dikenal sebagai provinsi yang menegakkan syariat Islam. Itulah sebabnya kota ini mendapat julukan Serambi Mekah.

Salah satu hal yang bisa kita ulik dari Aceh adalah budayanya, termasuk pakaian adat. Dahulu, pakaian tersebut hanya digunakan oleh kalangan sultan saja. Namun kini semua orang bisa menggunakan pakaian adat Aceh dalam berbagai acara, salah satunya pernikahan.

Apakah Ladies tertarik soal pakaian adat Aceh? Atau Ladies berniat untuk menikah menggunakan pakaian adat Aceh? Langsung saja simak artikel ini sampai habis ya, Ladies! 

Linto Baro, Pakaian Adat Aceh untuk Pria

Pakaian-Adat-Aceh

Pakaian adat Aceh untuk pria disebut dengan Linto Baro. Pakaian ini terdiri dari baju, celana, senjata tradisional sebagai aksesoris, penutup kepala, dan aksesoris lainnya. Berikut ini komponen-komponen dari Linto Baro beserta makna filosofisnya.

1. Baju Meukeusah

Baju Meukeusah terlihat seperti beskap dengan leher tertutup. Atasan ini terbuat dari kain sutra yang ditenun. Umumnya, pakaian ini berwarna hitam dengan motif sulaman berwarna emas berbentuk bunga atau sulur daun. Warna hitam melambangkan kebesaran. Sedangkan motif berwarna emas melambangkan kesuburan dan kebersamaan.

2. Celana Sileuweu

Sekilas, celana Sileuweu tampak seperti celana hitam pada umumnya. Namun, pada bagian bawahannya, terdapat sulaman emas yang menjadi ciri khas celana ini. Celana berbahan katun ini juga bisa disebut sebagai Celana Cekak Musang.

3. Kain Sarung Tenun

Sebagai pelengkap penampilan, pria Aceh biasanya menggunakan kain sarung tenun yang dililitkan di pinggang. Panjangnya hanya sampai 10 cm di atas lutut. Penggunaan kain ini bertujuan untuk memberikan kesan wibawa pada si pemakai, Ladies. Beberapa jenis kain yang sering digunakan yaitu Ija Kroeng, Ija Lamugap, dan Ija Sangket.

4. Meukeutop

Meukeutop adalah penutup kepala yang terbuat dari kain tenun yang disulam dengan bentuk melonjong ke atas. Sulaman tersebut terdiri dari empat warna yang memiliki makna masing-masing, yaitu:

  • hijau yang melambangkan kedamaian yang dibawah agama Islam
  • kuning melambangkan kesultanan
  • hitam melambangkan kebesaran
  • merah melambangkan keberanian dan kepahlawanan.

Bagian atas Meukeutop dililit oleh Tampoek yang terbuat dari emas atau perak sepuh emas. Tampoek sendiri adalah hiasan berbentuk persegi delapan, bertingkat, dan terbuat dari logam mulia.

Sementara itu, bagian depan Meukeutop dibalut oleh kain tenun tradisional Aceh bernama Tangkulok. Wah, terlihat bagus ya, Ladies!

5. Aksesoris Senjata Tradisional

Sebagai aksesorisnya, Linto Baro dapat ditambahkan dengan senjata tradisional, seperti rencong atau siwah. Aksesoris ini diselipkan pada lipatan sarung yang melambangkan kegagahan pria Aceh.

Daro Baro, Pakaian Adat Aceh untuk Wanita

Pakaian-Adat-Aceh

Pakaian adat Aceh untuk wanita disebut dengan Daro Baro. Pakaian ini terdiri dari baju kurung, celana, kain sarung, dan berbagai macam aksesoris. Nah, untuk lebih jelasnya langsung saja simak komponen-komponen baju Daro Baro, Ladies.

1. Baju Kurung

Sama seperti baju Meukeusah, baju kurung untuk pakaian adat Aceh juga terbuat dari kain sutra. Bedanya, baju kurung memiliki warna yang lebih beragam, seperti merah, kuning, hijau, dan ungu.

Pakaian ini memiliki panjang hingga menutup pinggul. Selain itu, pakaian ini memiliki sulaman-sulaman emas yang memiliki makna yang sama dengan baju Meukeusah.

2. Celana Sileuweu

Celana sileuweu yang dipakai wanita memiliki model yang sama dengan yang dipakai pria. Bedanya hanya terletak pada warnanya saja. Warna celana sileuweu untuk wanita biasanya sama seperti baju kurung yang ia kenakan.

3. Kain Sarung Tenun

Sama seperti pria, wanita juga menggunakan kain sarung tenun yang dililitkan pada pinggang. Bedanya, kain tersebut lebih panjang hingga menutupi bawah lutut wanita, Ladies. Kain itu kemudian diikat dengan ikat pinggang berbahan perak atau emas yang disebut “taloe ki leng patah sikureueng.”

4. Patam Dhoe

Patam Dhoe adalah hiasan kepala wanita dalam pakaian adat Aceh. Bentuknya seperti mahkota yang memiliki motif unik. Bahkan, ada pula Patam Dhoe yang diberi kaligrafi bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad. Sebelum mengenakan Patam Dhoe, wanita harus mengenakan kerudung untuk menutup auratnya, Ladies.

5. Aksesoris Lain

Agar penampilannya makin cantik, pakaian adat Aceh untuk wanita biasanya dilengkapi berbagai jenis aksesoris, di antaranya:

  • Keureusang (bros emas berhias berlian)
  • Piring Dhoe (mahkota)
  • Untai Peniti (bros untuk hiasan baju kurung)
  • Subang Aceh (anting-anting)
  • Culok Ok (tusuk konde)
  • dan Simplah (kalung).

Nah, itu tadi penjelasan mengenai pakaian adat Aceh dan makna filosofisnya. Semoga bisa jadi inspirasi bagi Ladies yang sedang mencari referensi pakaian adat untuk pernikahan maupun acara formal lainnya, ya.

Baca Juga:

Yuk Mengenal Ciri Khas dan Makna Filosofi Pakaian Adat Maluku 

5 Jenis Pakaian Adat Kalimantan Timur, Sangat Eksotis dan Unik

Inilah 6 Jenis Pakaian Adat Yogyakarta yang Masih Dipakai Warga Lokal