Makna Filosofis dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa 

0
175

Penulis: Adriana | Editor: Agnes

Tidak dipungkiri jika pernikahan dengan adat Jawa adalah salah satu prosesi pernikahan yang paling sering dilakukan. Maklum saja karena suku Jawa sendiri adalah salah satu suku paling besar yang ada di Indonesia. 

Lantas, apakah Ladies sudah tahu makna filosofis di balik prosesi nikah adat Jawa yang terkenal sakral? Biar tidak bingung lagi, yuk baca penjelasan tentang makna di balik prosesi pernikahan adat Jawa di sini! 

Sebelum Upacara Pernikahan 

  • Pemasangan tanda akan adanya pernikahan 

Pada tahap ini akan diberi ‘hiasan’ yang menandakan akan diadakan pernikahan. Biasanya akan dipasangkan tarub, bleketepe, dan tawuhan. Tarub sendiri adalah peneduh di depan rumah mempelai yang berupa janur kuning atau tenda. 

Bleketepe adalah anyaman kelapa tua yang dipasangkan orang tua mempelai wanita. Lalu tawuhan berupa pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur yang akan dipasang pada kedua sisi gerbang rumah pengantin. 

  • Sungkeman 

Selanjutnya ada sungkeman. Pada tahap ini, kedua mempelai akan melakukan sungkem sebagai tanda meminta restu untuk menjalani bahtera rumah tangga berdua dan supaya restu orang tua turut mengiringi kehidupan pernikahan. 

  • Siraman 

Untuk ‘membersihkan’ diri sebelum menikah, kedua mempelai akan melakukan siraman sebagai simbol dibersihkan dan menjadi suci kembali. Biasanya penyiram sudah ditunjuk anggota keluarga dan berjumlah ganjil. 

  • Dodol dawet 

Lanjut ada dodol dawet. Pada tahap ini, kedua orang tua mempelai akan ‘berjualan’ dawet kepada para tamu. Namun, tidak bermaksud jualan seutuhnya, melainkan sebagai simbolis agar rumah tangga yang dijalani penuh rasa gotong royong dan akur. 

  • Midodareni 

Selanjutnya ada midodareni atau arti harfiahnya bidadari. Pada tahap ini, kedua mempelai dilarang untuk bertemu mulai dari jam tertentu, biasanya mulai dari sore sehari sebelum waktu akad. Maksudnya disini, mempelai wanita akan menghabiskan waktu terakhirnya sebelum menjadi istri dan diharapkan pada saat akad akan tampak cantik seperti bidadari. 

  • Penyerahan sanggan 

Lalu ada juga penyerahan sanggan. Pada proses ini, kedua orang tua calon mempelai akan bertemu sebagai tanda penyerahan putri mereka kepada keluarga mempelai pria. Sanggan sendiri biasanya berisikan pisang raja, sirih ayu, kembang telon, bunga mawar, melati, dan kenanga. 

Saat Hari Pernikahan 

  • Akad nikah 

Tiba hari pernikahan, akan dilakukan akad nikah. Mempelai pria akan mengucap ijab kabul di depan penghulu, wali nikah, tamu undangan, dan orang tua. Pada tahap ini, mempelai akan mengenakan pakaian pengantin adat Jawa.

  • Panggih

Sudah resmi menikah, kedua mempelai akan melakukan panggih. Panggih berarti bertemu dan kali ini kedua mempelai bertemu pertama kali sebagai suami istri. 

  • Balang gantal 

Selanjutnya ada balang gantal. Pada sesi ini, kedua pengantin akan melemparkan daun sirih yang diikat dengan benang putih. Mempelai pria akan melemparkan ke bagian dada wanita sebagai tanda hati yang sudah didapatkan. Lalu mempelai wanita akan melempar ke bagian lutut sebagai simbol patuh terhadap suami. 

  • Wijikan

Lanjut dengan prosesi wijikan atau berarti ranupada. Pada proses ini, mempelai wanita akan menyirami kaki mempelai pria sebanyak 3 kali sebagai tanda berbakti kepada suami dan harapan agar rumah tangga bisa bahagia. 

  • Sinduran dan Ngidak endhog 

Lalu ada sinduran dan ngidak endhog. Saat sinduran, pengantin akan dibalut kain sindur sembaru berwarna merah dan putih, lalu diantarkan ke pelaminan oleh ayah mempelai wanita. Hal ini memiliki simbol agar rumah tangga kedua pengantin jadi kuat walau diterpa badai. 

Lalu ngidak endhog atau injak telur. Saat prosesi ini, mempelai pria akan menginjak telur mentah dan mempelai wanita akan membasuh kaki suaminya sebagai tanda bakti. 

  • Bobot timbang 

Lanjut ada bobot timbang. Prosesi ini berarti ayah mempelai wanita akan memangku kedua mempelai. Setelah itu ibu pengantin akan bertanya siapa yang lebih berat. Lalu sang ayah akan menjawab sama. Hal ini menjadi simbol bahwa tidak ada perbedaan kasih sayang terhadap kedua mempelai. 

  • Minum air degan 

Selanjutnya adalah minum air degan. Pada prosesi ini mempelai dan orang tua akan diberi air degan secara bergilir. Hal ini bersimbol sebagai pembersihan diri dan rohani keluarga.

  • Dulangan 

Mendekati prosesi akhir, kedua mempelai akan saling menyuapi sebanyak 3 kali, prosesi inilah yang disebut dulangan. Hal ini bermaksud sebagai tanda bahwa kedua pengantin akan saling tolong menolong dan mencintai sampai akhir hayat. 

  • Sungkeman 

Sampai di prosesi akhir yakni sungkeman. Kedua mempelai akan melakukan sungkeman kepada kedua orang tua sebagai tanda terima kasih sudah membesarkan dan mengasihi sampai akhirnya menikah.

Itulah penjelasan mengenai prosesi pernikahan adat Jawa. Selain terkenal sakral, prosesi ini tentu memiliki makna filosofis yang indah.

Baca Juga:

Cara Mengatur Budget Pernikahan dan Keperluan Lainnya

Kumpulan Ucapan Pernikahan Simple untuk Pengantin Baru 

Kenali Tugas Bridesmaid dan Groomsmen dalam Pernikahan